Kewajiban Berdakwah
إِنَّ الْحَمْدَ
لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِي
اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!
Kaum muslimin para hamba Allah yang dirahmati Allah!
Dakwah
merupakan suatu proses motivasi agar manusia melakukan kebaikan dan
melarang manusia berbuat kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan
dunia dan akhirat.
Menurut
Syekh Ali Mahfud. Dakwah Islam adalah memotivasi manusia agar melakukan
kebaikan menurut petunjuk, menyuruh mereka berbuat kebajikan dan
melarang mereka berbuat kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagian
dunia dan akhirat.
Dakwah
merupakan kewajiban setiap individu muslim, yang Islam ibarat darah
dalam tubuh manusia. Ia menyebabkan ummat hidup dan terus tumbuh dan
berkembang. Dakwahlah yang mampu menggerakkan umat untuk tetap terikat
dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Namun sebaliknya, disaat ummat
meninggalkan dakwah, umat tidak akan lagi terwarnai oleh fitrah dan
kepribadian Islam. Sehingga perlulah ada yang membimbing atau menyuruh
kepada kebajikan sehingga tetaplah umat Islam itu tetap berada dalam
fitrah dan kepribadian islam tersebut. Sebagaimana dalam firman Allah
SWT surah Ali Imron ayat 104
104.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!
Kataمنكم pada ayat di atas, ada ulama yang memahaminya dari arti sebagian,
dengan demikian perintah berdakwah yang dipesankan oleh ayat ini tidak
teruju kepada setiap orang. Bagi yang memahaminya demikian, ayat ini
buat mereka mengandung dua macam perintah, yang pertama kepada seluruh
umat Islam agar membentuk dan menyiapkan satu kelompok khusus yang
bertugas melaksanakan dakwah, sedang perintah yang kedua adalah kepada
kelompok khusus itu untuk melaksanakan dakwah kepada kebajikan dan
ma’ruf serta mencegah kemunkaran.
Ada juga ulama yang memfungsikan kata منكم dalam arti penjelasan
sehingga ayat ini merupakan perintah kepada setiap orang muslim untuk
melaksanakan tugas dakwah, masing-masing sesuai kemampuannya. Memang,
jika dakwah yang di maksud adalah dakwah yang sempurna, tentu saja tidak
semua osrang dapat melakukannya. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat
dewasa ini menyangkut informasi yang benar di tengah arus informasi,
bahkan perang informasi yang demikian pesat dengan sajian nilai-nilai
baru yang sering kali membingungkan, semua itu menuntut adanya kelompok
khusus yang menangani dakwah dan membendung informasi yang menyesatkan.
Karena itu, adalah lebih tepat memahami kata minkum pada ayat di atas
dalam arti sebagian kamu tanpa menutup kewajiban setiap muslim
untuk saling mengingatkan. Buka berdasarkan ayat ini, tetapi antara lain
berdasarkan firman Allah swt dalam surah al-’Ashr yang menilai semua
manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh
serta saling mengingatkan tentang kebenaran dan ketabahan.
Hendaklah
di antara kita ada segolongan orang yang menangani bidang dakwah, yaitu
menyeru manusia kepada kebajikan (agama) yang membawa kebahagiaan di
dunia dan akhirat. Menyuruh yang makhruf (segala hal yang dipandang baik
oleh syara’ dan akal) dan mencegah segala hal yang dipandang tidak baik
oleh syara’ dan akal.
Ayat
ini menuntut kita untuk memilih segolongan umat untuk menangani tugas
dakwah, dan masing-masing dari kita juga memperhatikan sikap segolongan
itu. Jika kita melihat ada kesalahan, segera kita memperingatkan dan
meluruskannya.
Para
muslim di abad pertama kelahiran Islam senantiasa mengontrol perilaku
dan kebijakan para pembesar (penguasa) yang menangani urusan-urusan
dakwah.
Pada
masa itu, pemuka-pemuka sahabat bekerja sama dalam menjalankan tugas
ini. Masing-masing merasa berkewajiban mengembangkan agama dengan
menghadapi orang-orang yang merendahkan agama, baik yang menyangkut
akidahnya, adab (etika), hukum-hukumnya maupun yang menyangkut
kepentingan pemeluknya.
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!
Ada beberapa syarat untuk melaksanakan tugas dakwah :
-
Mengetahui al-Qur’an dan as-Sunnah.
-
Mengetahui kondisi bangsa yang di dakwahi, baik menyangkut karakter, perilaku ataupun budaya mereka. Pendek kata mengetahui keadaan kemasyarakatannya..
-
Mengetahui bahasa masyarakat yang hendak di dakwahi.
-
Mengetahui agama-agama dan mazhab-mazhab yang berkembang, sehingga dapat di mengerti mana praktek kehidupan yang batal atau menyimpang dari ajaran agama.
Dakwah
merupakan tugas agama yang besar, dan menjadi salah satu dasar
pengembangan agama. Semua muslim yang mungkin bisa menjalankan dan tidak
akan menimbulkan kesulitan, wajib melaksanakan tugas ini. Orang dewasa
(mukallaf) dan tidak mukallaf, apabilaa ingin menjalankan sesuatu yang
dapat berdampak pada orang lain wajib di cegah, sebagaimana wajib
mencegah mereka dari perbuatan haram.
Jama’ah shalat Jum’at yang berbahagia!
Kita
bisa memahami betapa tegas perintah Allah dalam dakwah, karena
kewajiban tersebut terkena kepada laki-laki maupun perempuan,
sendiri-sendiri maupun berjamaah/berkelompok.
Dalam
ayat ini Allah swt memerintahkan kita untuk mendorong dan memotivasi
sesama umat manusia, dengan menggerakkan mereka untuk mengikut syariat,
menjauhi larangan, dan mencintai kebajikan, sehingga terwujudlah suatu
ikatan yang amat erat di antara segala suku, etnis, dan bangsa. Seolah
mereka satu tubuh. Di samping itu, Allah swt memerintah kita menyusun
lembaga dakwah, yang bisa memiliki syarat-syarat dan prasarana yang
sempurna untuk menyeru umat lain kepada Islam.
Ali Imran ayat 104
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
لْحَمْدُ
لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ
وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ
الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ
اللهُ تَعَالَى ِفْي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا
عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar